31 Oktober 2008

Kanker Nasofaring: Kenali, Hindari dan Obati!

Klo kita mendengar kata kanker...ihhh seram yaaa...Nah dibawah ini adalah pembahasan tentang kanker nasofaring, untuk lebih jelasnya simak pembahasan dibawah ini. semoga bermanfaat

Merupakan kanker yang terdapat pada nasopharing, berada di antara belakang hidung dan esofagus. Kanker ini merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia. Hampir 60% tumor ganas kepala dan leher merupakan kanker nasopharing, kemudian diikuti oleh tumor ganas hidung dan sinus paranasal (18%), laring (16%), dan tumor ganas rongga mulut, tonsil, hipofaring dalam prosentase rendah. Pada banyak kasus, nasopharing carsinoma banyak terdapat di negara ras mongoloid, khususnya Cina Selatan. Namun tidak menutup kemungkinan terdapat di negara lain, seperti di Yunani, Afrika bagian Utara seperti Aljazair dan Tunisia, orang Eskimo. Di Indonesia, kanker ini lebih banyak menyerang keturunan tionghoa dibanding suku lainnya. Kanker ini lebih banyak dijumpai pada pria daripada wanita.

Tanda dan Gejala
Gejala kanker nasopharing dapat dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu:
• Gejala nasopharing sendiri, berupa Mimisan ringan (keluar darah lewat hidung) atau sumbatan hidung. Ini terjadi jika kanker masih dini.

• Gejala telinga, merupakan gejala dini yang timbul karena tempat asal tumor dekat muara tuba Eustachius (saluran penghubung hidung-telinga). Gejalanya berupa telinga berdenging atau berdengung, rasa tidak nyaman di telinga, sampai nyeri.

• Gejala mata dan saraf, dapat terjadi sebagai gejala lanjut karena nasopharing berhubungan dekat dengan rongga tengkorak tempat lewatnya saraf otak. Gejala dapat berupa nyeri kepala, nyeri di bagian leher dan wajah (neuralgia trigeminal), pandangan kabur, penglihatan dua (diplopia).

• Gejala metastasis/menyebar atau gejala di leher. Berupa bengkak di leher karena pembengkakan kelenjar getah bening

Penyebab
Pada umumnya kanker disebabkan karena adanya pertumbuhan sel kanker yang tidak terkontrol. Kanker dapat juga timbul karena adanya faktor keturunan (genetik), lingkungan, dan juga virus. Kanker nasopharing disebabkan karena adanya perkembangan sel kanker yang tidak terkontrol di bagian nasopharing. Namun pada banyak kasus, nasopharing carsinoma disebabkan karena adanya faktor keturunan (genetik).

Adapun faktor resiko penyebab adanya kanker nasopharing, antara lain:
1. Makan makanan asin
   Pada banyak kasus di Cina, nasopharing carsinoma disebabkan dari makan ikan asin. Juga dari bumbu masak tertentu       dan makan makanan terlalu panas.

2. Virus
Beberapa virus menimbulkan tanda dan gejala seperti demam. Beberapa virus memiliki kemungkinan akan timbulnya kanker nasopharing. EBV-Virus biasanya yang menyebabkan kanker.

3. Keturunan
    Dalam keluarga dengan riwayat terkena kanker -terutama kanker nasophariing- besar kemungkinan untuk terkena kanker     nasopharing daripada yang tidak memiliki riwayat keluarga terkena kanker.

Ada lagi faktor yang memperbesar timbulnya kanker, seperti merokok dan mengkonsumsi alkohol. Kedua hal ini memungkinkan resiko terkena kanker.

Diagnosis
Seperti pada umumnya, dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan tentang tanda dan gejala yang dialami. Setelah itu dokter akan mulai menekan bagian lehermu dimana terdapat kelenjar getah bening yang membengkak. Beberapa tanda dan gejala dari kanker ini memang tidak terlalu spesifik. Pemeriksaan ini mungkin akan berlangsung selama beberapa bulan.

Jika dicurigai terjadinya kanker, dokter akan mulai menggunakan endoskop untuk melihat nasopharing yang abnormal tersebut. Dalam penggunaannya diperlukan anestesi lokal. Setelah itu, diambil biopsy (sampel) yang kemudian diuji apakah merupakan kanker.

Kemudian dokter akan menentukan stadium kanker itu dengan cara:
-MRI (membantu melihat kanker yang menyebar di sekitar kepala)
-CT scan (melihat kanker yang tersebar pada tulang)
-Pengambilan biopsy: ini digunakan untuk melihat kanker yang berada di kelenjar getah bening.
-Sinar X(melihat kanker yang menyebar di bagian paru-paru)

Adapun tingkatan dari kanker ini adalah:

1. Stadium 0: Sel-sel kanker masih berada dalam batas nasopharing, biasa disebut dengan nasopharynx in situ
2. Stadium 1: Sel kanker menyebar di bagian nasopharing
3. Stadium 2: Sel kanker sudah menyebar pada lebih dari nasopharing ke rongga hidung. Atau dapat pula sudah menyebar di kelenjar getah bening pada salah satu sisi leher.
4. Stadium 3: Kanker ini sudah menyerang pada kelenjar getah bening di semua sisi leher
5. Stadium 4: kanker ini sudah menyebar di saraf dan tulang sekitar wajah.
Dari tingkatan-tingkatan inilah dokter dapat menentukan jenis pengobatan yang tepat bagi penderita.

Pengobatan
Beberapa macam pengobatan untuk penderita nasopharing carsinoma, antara lain:
1. Terapi Radiasi
Terapi ini dapat merusak dengan cepat sel-sel kanker yang tumbuh. Terapi ini dilakukan selama 5-7 minggu. Terapi ini digunakan untuk kanker pada tingkatan awal.
Efek samping dari terapi ini adalah: mulut terasa kering, kehilangan pendengaran dan terapi ini memperbesar resiko timbulnya kanker pada lidah dan kanker tulang.

2.Kemoterapi
Merupakan terapi dengan menggunakan bantuan obat-obatan. Terapi ini bekerja dengan cara mereduksi sel-sel kanker yang ada, namun adakalanya sel-sel yang sehat (tidak terkena kanker) juga tereduksi.
Efek samping dari terapi ini adalah: rambut rontok, mual, lemas(seperti kehilangan tenaga). Efek samping yang timbul tergantung pada jenis obat yang diberikan.

3.Pembedahan
Tujuan dari pembedahan ini adalah untuk mengambil kelenjar getah bening yang telah terkena kanker. (Fernando Gazali)

semoga bermanfaat

29 Oktober 2008

Kenalan dulu ahh...

Hai..salam kenal, nama gw Faridy, gw bukan artis , politikus...apalagi poli-poli yang lainnya hehehe. Gw kerja sebagai kuli di perusahaan asing di Jakarta, kerja dari pagi ampe malem demi mencukupi kebutuhan sehari2 gw..yaaa buat makan, bayar kostan, bayar utang, bayar tagihan hp...wah pokoknya besar pasak daripada tiang deh ;p
kerjaan gw sehari2 sbg marketing untuk alat2 lab industry, hospital, research dll..bagi anda yang membutuhkan alat2 seperti mikropipet, Centrifuge, oven, flame photometer, cloride analizer, thermostat, aneka pump, cooling, HPTLC, TLC, mesin printing prototype 3 dimensi, dan alat2 survey bisa menghubungi saya melalui email tujuhbelas@gmail.com
Alhamdulillah sudah banyak karyawannya yang sudah di Training ke Eropa, seperti Perancis, Jerman, dan inggris..untuk menambah skill, pegetahuan dalam melakukan penjualan. Saya sendiri di training ke Perancis pada bulan Juni 2008..asyik ga tuh hehehe

Sensor

Transduser, Sensor dan Aktuator

Transduser adalah alat yang mengubah sinyal dari satu bentuk fisik ke sinyal dengan bentuk fisik yang lain. Untuk itu, transduser dapat disebut sebagai pengubah energi.
Karena terdapat enam bentuk sinyal yang berbeda-mekanik, termal, magnetik, elektrik, optik dan kimia- semua alat yang mengubah sinyal dari suatu jenis ke jenis lainnya dapat dikatakan sebagai transduser. Sinyal output dalam bentuk apapun dapat berguna. Namun dalam prakteknya, hanya alat yang memberikan output sinyal elektrik saja yang dapat disebut sebagai transduser. Hal ini karena sinyal elektrik digunakan dalam hampir semua sistem pengukuran. Beberapa keuntungan dari sistem pengukuran elektronik, antara lain:
  1. Transduser elektronik dapat dirancang untuk semua besaran non elektrik, dengan memilih komponen yang sesuai. Perubahan pada parameter non elektrik akan menghasilkan perubahan yang bersesuaian pada parameter elektrik.
  2. Energi tidak akan berkurang dari proses yang sedang diukur karena sinyal output tranduser dapat dikuatkan. Cukup dengan amplifier satu tingkat, dengan mudah didapatkan gain hingga 1010.
  3. Banyak jenis IC yang tersedia untuk pengkondisi sinyal atau modifikasi. Bahkan banyak transduser yang langsung memiliki pengkondisi sinyal dalam satu paket.
  4. Banyak pilihan untuk display ataupun recording dari hasil pengukuran. Hal ini memungkinkan kita untuk menangani tidak saja data berupa angka, tetapi juga teks, gambar dan diagram.
  5. Transmisi sinyal dapat lebih mudah dengan sinyal elektrik. Sinyal mekanik, hidrolik atau pneumatik mungkin lebih cocok untuk beberapa keadaan, namun sinyal elektrik telah dapat menggantikan sebagian besar sinyal non elektrik. Hal ini berlaku pada dunia industri terutama untuk otomasi proses.

Sensor dan transduser kadang-kadang digunakan sebagai istilah sinonim. Namun, sensor memberi kesan yang lebih luas karena memasukkan peningkatan kemampuan kita untuk memperoleh informasi mengenai besaran fisik yang tidak dapat diterima oleh indera manusia. Transduser hanya memberi kesan bahwa besaran input dan ouput adalah berbeda.
Perbedaan istilah antara input-transduser (sinyal fisik/sinyal elektrik) dan ouput-transduser (sinyal elektrik/display) jarang digunakan saat ini. Istilah yang banyak digunakan, terutama dalam robotika adalah sensor, yang merujuk pada input transduser, sementara aktuator merujuk pada output transduser. Sensor dimaksudkan untuk memperoleh informasi. Aktuator dirancang untuk konversi daya.
Kadang-kadang, khususnya pada pengukuran mekanik, terdapat sebuah elemen yang disebut sebagai sensor primer, digunakan untuk mengubah variabel yang diukur ke dalam bentuk sinyal tertentu dan kemudian sensor akan mengubah sinyal tersebut ke dalam sinyal elektrik.

Signal Conditioning dan Display

Dalam pengertian yang umum, unit pengkondisi sinyal, adapter atau amplifier adalah elemen sistem pengukuran yang bermula dari sinyal output sensor dan kemudian menghasilkan sinyal yang sesuai untuk display atau recording, atau yang memenuhi persyaratan standar dari suatu perangkat tertentu. Pada umumnya terdiri dari rangkaian elektronik yang melakukan fungsi-fungsi berikut: penguatan (amplification), penyaringan (filtering), pencocokan impedansi, modulasi dan demodulasi.
Biasanya, salah satu tingkat dari sistem pengukuran adalah digital sedangkan output dari sensor adalah analog. Maka sebuah konverter analog-digital (ADC, analog-to-digital converter). ADC memiliki impedansi input yang rendah, dan mensyaratkan bahwa sinyal yang diaplikasikan adalah sinyal dc atau yang berubah secara perlahan, dan amplitudonya tidak melebih batas yang telah ditentukan, biasanya kurang dari ±10 V. Untuk itu, sinyal output sensor, yang mungkin memiliki amplitudo dalam millivolt harus dikondisikan terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam ADC.
Display dari hasil pengukuran dapat dalam bentuk analog (optik, akustik) atau dalam digital (optik). Recording dapat berupa magnetik, elektronik atau di atas kertas, tapi informasi yang ingin direkam harus selalu dalam bentuk elektronik.